Arsenal dan Liverpool Puasa Gelar Puluhan Tahun, Kapan Giliran Man United Juara Lagi?

Arsenal dan Liverpool Puasa Gelar Puluhan Tahun, Kapan Giliran Man United Juara Lagi?
Foto: Arsenal dan Liverpool Puasa Gelar Puluhan Tahun, Kapan Giliran Man United Juara Lagi?. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Penantian panjang yang menyelimuti Arsenal akhirnya resmi berakhir dengan penuh suka cita. Klub yang bermarkas di London Utara tersebut berhasil mengunci gelar juara Premier League musim 2025/2026 setelah rival terdekatnya, Manchester City, hanya mampu memetik hasil imbang 1-1 saat bertandang ke markas AFC Bournemouth pada Rabu dini hari WIB.

Keberhasilan ini menjadi momen yang sangat emosional bagi seluruh elemen klub dan pendukungnya. Pasalnya, The Gunners harus melewati masa penantian selama 22 tahun untuk kembali mencicipi trofi Liga Inggris, sejak terakhir kali mereka menjadi juara pada musim 2003/2004 di bawah asuhan Arsene Wenger dengan rekor legendaris "Invincibles".

Belajar dari Keteguhan Arsenal dan Liverpool

Fenomena puasa gelar yang panjang sebenarnya bukanlah hal yang asing dalam panggung kompetitif Premier League. Sebelum Arsenal, Liverpool pernah mengalami masa kekosongan trofi liga selama tiga dekade atau tepatnya 30 tahun lamanya.

Kutukan tersebut baru berhasil dipatahkan oleh The Reds pada musim 2019/2020 saat berada di bawah komando Jurgen Klopp. Kini, setelah Arsenal sukses mengakhiri masa paceklik mereka, perhatian publik sepak bola Inggris mulai beralih sepenuhnya kepada raksasa yang masih tertidur, Manchester United.

Sebagai klub paling sukses sepanjang sejarah Premier League, Manchester United kini tercatat sudah 13 tahun tidak pernah lagi mengangkat trofi liga. Terakhir kali Setan Merah berpesta adalah pada musim 2012/2013, yang juga merupakan musim perpisahan bagi manajer legendaris Sir Alex Ferguson sebelum ia memutuskan untuk pensiun.

Muncul sebuah pertanyaan besar di kalangan pecinta sepak bola saat ini. Apakah Manchester United sanggup mengikuti jejak kebangkitan Arsenal dan Liverpool dalam waktu dekat, atau justru mereka harus terjebak dalam masa penantian yang jauh lebih lama?

Arsenal sendiri sempat lama menjadi bahan pergunjingan karena gagal memenangkan liga selama lebih dari dua dekade. Meski beberapa kali sempat berada di jalur juara, mereka sering kali terpeleset dan gagal mempertahankan performa pada momen-momen paling krusial di akhir musim.

Namun, kesabaran manajemen dalam mempertahankan filosofi klub akhirnya membuahkan hasil manis pada musim ini. Setelah harus puas finis sebagai runner-up dalam tiga musim berturut-turut, tim yang dipoles oleh Mikel Arteta ini akhirnya berhasil melewati garis finis di posisi teratas.

Pencapaian ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan pada proyek jangka panjang tetap memiliki tempat dan bisa membuahkan hasil di kancah sepak bola modern yang serba instan. Keberhasilan ini memberikan harapan bahwa stabilitas tim adalah kunci utama meraih kejayaan.

Liverpool pun memiliki narasi yang tidak kalah dramatis dalam perjalanan mereka kembali ke puncak. Klub yang berbasis di Merseyside tersebut harus menunggu sejak tahun 1990 untuk bisa kembali merajai sepak bola Inggris.

Banyak generasi penggemar Liverpool yang tumbuh dewasa tanpa pernah menyaksikan tim kesayangan mereka menjadi juara liga secara langsung. Namun, kombinasi antara investasi cerdas, kebijakan transfer yang sangat presisi, serta kestabilan kepemimpinan Klopp membawa mereka kembali menjadi yang terbaik pada tahun 2020.

Kisah sukses Arsenal dan Liverpool ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa klub sebesar apa pun tidak kebal dari masa sulit yang panjang. Kuncinya terletak pada bagaimana klub tersebut berbenah dan membangun kembali fondasi kekuatannya.

Kondisi Manchester United Setelah 13 Tahun Tanpa Mahkota

Manchester United sebenarnya sempat beberapa kali terlihat memiliki peluang untuk kembali bersaing di papan atas sejak ditinggal oleh Sir Alex Ferguson. Sayangnya, setiap momentum positif yang muncul selalu berakhir dengan kegagalan atau antiklimaks di tengah jalan.

Pada musim 2020/2021 di bawah kepemimpinan Ole Gunnar Solskjaer, mereka sempat finis di posisi kedua meski terpaut jarak cukup jauh yakni 12 poin dari Manchester City. Namun, setahun setelahnya performa tim justru merosot tajam hingga tertinggal selisih 35 poin dari sang juara.

Siklus serupa juga sempat dirasakan pada masa kepemimpinan Erik ten Hag di Old Trafford. Setelah menunjukkan progres yang menjanjikan pada tahun pertamanya, performa skuad Manchester United kembali mengalami penurunan yang signifikan pada musim berikutnya.

Memasuki musim 2025/2026, banyak pengamat sepak bola di Inggris mulai melihat adanya perbedaan yang cukup mencolok. Di bawah kendali pelatih Michael Carrick, penampilan kolektif United menunjukkan tren peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dalam kurun waktu 16 pertandingan liga terakhir, Manchester United tercatat menjadi tim dengan perolehan poin paling banyak di Premier League. Michael Carrick dinilai berhasil membawa aura dan suasana baru yang lebih positif di dalam ruang ganti pemain.

Kebijakan transfer pemain yang dimulai pada era Ruben Amorim juga dianggap sebagai langkah yang tepat. Kedatangan pemain-pemain berkualitas seperti Senne Lammens, Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, dan Benjamin Sesko dinilai telah memberikan fondasi tim yang jauh lebih sehat dan kompetitif.

Project 150 dan Ambisi Juara Tahun 2028

Di balik layar, manajemen baru di bawah naungan INEOS ternyata sudah menyusun strategi yang sangat terperinci untuk masa depan klub. CEO Omar Berrada secara resmi telah meluncurkan program yang dinamakan "Project 150".

Proyek ambisius ini menargetkan Manchester United untuk kembali menduduki takhta juara Premier League pada tahun 2028 mendatang. Target waktu tersebut dipilih secara khusus karena bertepatan dengan perayaan ulang tahun klub yang ke-150.

Beberapa faktor pendukung yang membuat target Project 150 dianggap cukup realistis untuk dicapai antara lain:

  • Peta persaingan Premier League saat ini mulai terasa lebih terbuka dan tidak lagi didominasi secara mutlak oleh satu atau dua tim saja.
  • Standar poin untuk menjadi juara dalam beberapa musim terakhir cenderung menurun dibandingkan era sebelumnya yang mewajibkan tim meraih hampir 100 poin.
  • Adanya potensi transisi besar di kubu rival, seperti kabar hengkangnya Pep Guardiola dari Manchester City yang akan mengubah peta kekuatan liga.
  • Penurunan performa yang mulai terlihat pada beberapa klub besar lainnya, sementara Chelsea masih dalam tahap mencari konsistensi di bawah Xabi Alonso.

Kondisi-kondisi tersebut membuat banyak pihak di internal Old Trafford merasa sangat optimistis bahwa celah untuk kembali bersaing di jalur juara kini mulai terbuka lebar bagi mereka. Namun, mereka tetap harus waspada karena tantangan yang dihadapi tidaklah mudah.

Hambatan dan Pekerjaan Rumah yang Masih Menumpuk

Meskipun ada gelombang optimisme yang kuat, realitas di lapangan menunjukkan bahwa Manchester United masih harus bekerja ekstra keras untuk menjadi penantang gelar yang stabil. Performa mereka memang membaik, tetapi selisih kualitas dengan tim seperti Arsenal masih tergolong cukup lebar.

Hingga menyisakan satu pertandingan lagi musim ini, Manchester United masih tertinggal 14 poin dari posisi puncak klasemen. Selain jarak poin, ada faktor krusial lainnya yang diprediksi akan membuat perjuangan mereka pada musim depan menjadi lebih berat.

Keberhasilan United menunjukkan performa apik musim ini banyak terbantu oleh jadwal yang relatif longgar, di mana mereka hanya memainkan sekitar 40 pertandingan. Jika musim depan mereka kembali berlaga di Liga Champions, jumlah pertandingan bisa membengkak hingga 60 laga dalam semusim.

Michael Carrick harus mampu membuktikan bahwa anak asuhnya memiliki ketahanan fisik dan mental untuk bersaing di banyak kompetisi sekaligus. Ini merupakan ujian yang sejauh ini belum benar-benar teruji di bawah kepemimpinannya.

Sektor lini tengah juga masih menjadi perhatian utama bagi manajemen untuk segera dibenahi. Klub perlu segera mencari sosok yang bisa menggantikan peran Casemiro di masa depan, sekaligus menambah kedalaman skuad agar tim tidak mudah ambruk saat jadwal mulai padat dan pemain bertumbangan karena cedera.

Lantas, berapa lama lagi para penggemar Manchester United harus bersabar menunggu trofi liga kembali ke kabinet mereka? Sejauh ini memang belum ada jawaban pasti yang bisa menjamin hal tersebut akan terjadi dalam waktu dekat.

Namun, jika melihat arah kebijakan dan progres proyek saat ini, Manchester United setidaknya mulai memiliki kerangka tim yang lebih jelas. Sebagai perbandingan, Arsenal butuh 22 tahun dan Liverpool butuh 30 tahun untuk kembali bertahta.

Jika "Project 150" berjalan mulus dan mereka juara pada 2028, artinya United menyudahi puasa gelar setelah 15 tahun. Durasi tersebut masih jauh lebih singkat dibandingkan sejarah masa sulit yang pernah dialami oleh dua rival utama mereka.

Walau demikian, sejarah panjang Manchester United pasca-Ferguson sering kali diwarnai oleh harapan yang berakhir dengan kekecewaan. Musim 2026/2027 diprediksi akan menjadi pembuktian sesungguhnya, apakah klub ini benar-benar sedang bangkit menuju kejayaan atau hanya sekadar memberikan janji manis belaka kepada para suporter setianya.

Artikel terkait

Rekomendasi