MAKASSAR, INIKATA.co.id – Pergerakan ekonomi selama Ramadan dan Idul Fitri 2025 diprediksi tidak akan sekuat tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah serta menurunnya daya beli masyarakat diduga menjadi faktor utama yang mempengaruhi kondisi ini.
Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas), Anas Anwar, menilai bahwa kebijakan efisiensi yang mengurangi pengeluaran pemerintah dan berkurangnya pendapatan masyarakat akan berdampak pada perlambatan ekonomi.
“Seharusnya ekonomi bergerak lebih kencang saat Ramadan. Tapi karena ada efisiensi, pengeluaran pemerintah berkurang, pendapatan masyarakat juga berkurang. Jadi dari mana sumber yang bisa menggerakkan ekonomi?” kata Anas kepada INIKATA.co.id, Senin (3/2/2025).
Selain itu, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) jelang Ramadan juga memperburuk situasi. “Apalagi kalau kita lihat, PHK besar-besaran pasti akan berdampak signifikan terhadap ekonomi,” ujarnya.
Meskipun tradisi belanja jelang Ramadan dan Lebaran masih berlangsung, efeknya diperkirakan tidak sebesar sebelumnya.
“Budaya masyarakat tetap ada, mereka ingin sesuatu yang baru untuk Lebaran. Tapi kalau melihat kebijakan pemerintah saat ini, pergerakan ekonomi tidak akan sehebat tahun lalu,” tambahnya.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,48 persen pada Februari 2025.
Menurut Anas, ini semakin menguatkan indikasi perlambatan ekonomi, terutama karena deflasi bisa menghambat investasi dan memperburuk tingkat pengangguran.
“Deflasi membuat orang ragu berinvestasi karena harga barang lebih murah, lapangan kerja pun makin terbatas. Kalau tidak ada stimulus dari pemerintah, ekonomi sulit bergerak,” tutupnya. (Fadli).
