Harmoni Idul Adha di Parangmalengu: Melukis Kebersamaan dan Keimanan dalam Bingkai Anyaman Sosial

MAKASSAR, INIKATA.co.id – Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu,” begitulah gema takbir yang ku dengar.

Hari sebelum subuh menyambutku saat terbangun, dengan sadar mengingat bahwa hari ini, Senin, 17 Juni 2024 adalah Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijah 1445 Hijriah. Umat Islam kembali merayakan Idul Kurban, sebuah perayaan tahunan yang berlangsung sekali setahun. Suara kesibukan di rumah mulai terdengar, orang-orang mempersiapkan segala sesuatunya, terutama pakaian. Membuatku bergegas menyiapkan diri untuk melaksanakan salat Idul Adha di lapangan nantinya.

Baca juga:

Hari Sukarelawan PMI, Bupati Wajo Tuntut Peran Nyata di Tiap Aksi Kemanusiaan

Ku mulai melangkah keluar, terdengar jelas suara takbir bergema di mana-mana, dari arah timur, barat, selatan dan utara.

Di sudut damai Dusun Parangmalengu, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terhamparlah pemandangan yang sama setiap tahunnya. Di pagi hari sekitar pukul 06:30 WITA, anak-anak, remaja, hingga orang tua berbondong-bondong melangkahkan kaki mereka menuju tempat yang suci itu. Berbagai lapisan masyarakat terlihat mengenakan pakaian putih bersih, sementara beberapa keluarga memilih untuk tampil serasi dalam balutan baju seragam, menambah keharmonisan suasana.

Di antara mereka, perempuan-perempuan anggun melangkah dengan balutan mukenah yang melambai seiring langkah kaki mereka. Tak ketinggalan, ibu-ibu yang penuh kasih sayang menggendong buah hati mereka, dengan lembut membawa bekal kerupuk di tangannya, berharap tangisan kecil tak mengusik kesakralan hari yang penuh berkah itu. Begitu syahdu, momen ini menjadi lambang kebersamaan dan keimanan yang kuat di hati setiap insan yang hadir.

Baca juga:

Pj Sekda Makassar Ajak Masyarakat Tumbuhkan Sikap Rela Berkorban

Dalam suasana khidmat sholat Idul Adha di Dusun Parangmalengu, seorang Imam bernama Abdul Jalil Dg Sitaba memimpin jamaah. Lantunan surah Al-Fatihah dan Al-A’la di rakaat pertama serta Al-Fatihah dan Al-Ghasyiyah di rakaat kedua yang dibacakannya mengalir dengan merdu, menambah kekhusyukan dua rakaat sholat yang dijalani bersama. Namun, di tengah kesakralan itu, terdengar tangisan seorang anak kecil yang menyaksikan ibunya tenggelam dalam doa. Suara tangisannya menjadi latar belakang yang kontras dengan keagungan momen. Kehadiran suara anak yang polos itu menambahkan sentuhan manusiawi dalam ibadah, menciptakan harmoni antara ibu dan anak.

Setelah rangkaian salat Idul Adha yang penuh kekhusyukan selesai, suasana kembali hening ketika Khatib naik ke mimbar. Ustadz Dg Patompo, S.E., mulai menyampaikan materi khotbahnya yang menggetarkan hati. Dengan suara yang bergetar penuh emosi, Ia membawakan pesan tentang dua belas golongan manusia yang akan dibangkitkan dari kubur.

“Mereka yang dibangkitkan dari kuburnya dan dikumpulkan di Padang Mahsyar dengan keadaan keluar darah dari mulutnya, mereka inilah yang selalu berdusta dari sumpah dan janji dan tidak mau bertaubat sampai mati,” katanya dalam khotbah idul Adha.

Suara tangisannya, yang pecah di tengah-tengah khotbah, menambah keharuan yang menyelimuti suasana, mengingatkan setiap pendengar akan kedalaman makna kehidupan dan kematian, serta kebangkitan yang pasti akan datang. Setiap kalimat yang diucapkannya bukan hanya menjadi renungan, tetapi juga menggugah kesadaran tentang pentingnya menjalani hidup dengan penuh kebaikan dan keimanan.

Menutup khotbah dengan doa, Ustadz Dg Patompo merendahkan suaranya dalam permohonan yang khusyuk kepada Sang Pencipta, berharap agar setiap kata yang terucap menjadi berkah dan petunjuk bagi seluruh jamaah.

Usai melantunkan doa, suasana sakral Salat Idul Adha perlahan-lahan beralih menjadi momen kebersamaan yang hangat. Satu per satu, jamaah mulai beranjak dari tempat duduknya, senyum tersungging di bibir mereka. Tanpa terburu-buru, mereka saling mengulurkan tangan, bersalam-salaman dan bermaaf-maafan, menyampaikan rasa syukur. Sentuhan tangan menjadi simbol persaudaraan yang erat, menghapus segala sengketa dan memupuk kembali benih-benih kebersamaan. Momen itu tak sekadar ritual, tetapi juga wujud nyata dari harmoni dan kasih sayang yang melingkupi Dusun Parangmalengu di hari yang penuh berkah ini.

Di tengah orang yang saling bermaaf-maafan, momen indah Idul Adha tak pernah luput dari perhatian, tatkala masyarakat bersukacita mengabadikan kenangan yang berharga. Di antara gemuruh tawa dan senyum yang merekah, sekelompok keluarga dan sanak saudara berkumpul bersama, berpose dengan latar pemandangan hari raya yang meriah, hanya berbekalkan kamera telepon genggam yang mereka pegang erat. Tiap jepretan yang diambil seolah mengunci waktu, memahat memori kebersamaan dalam bingkai digital.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang jamaah dengan penuh harap, Tanri Oja menyampaikan keinginannya agar suasana penuh berkah Idul Adha ini dapat kembali dirasakan bersama di tahun-tahun mendatang. Ia berharap momen sakral ini mampu mempererat ikatan sosial antar sesama, baik dengan keluarga dekat maupun keluarga jauh, agar tali silaturahmi senantiasa terjaga dan tidak pernah terputus oleh ruang dan waktu.

“Dengan demikian, semoga setiap perayaan yang akan datang selalu dihiasi dengan kebersamaan yang penuh makna, menciptakan harmoni dalam kehidupan sosial kita,” harapnya.

Penulis: Siti Ulwiyah (Mahasiswa Jurnalistik Semester 4, UIN Alauddin Makassar)