Kejari Gerak Cepat Serahkan Memori Banding Vonis Gembong Narkoba Wempi Wijaya ke Pengadilan Tinggi

MAKASSAR, INIKATA.co.id – Kejaksaan Negeri (Kejari) Makassar telah mengajukan banding terhadap perkara bandar narkoba, Wempi Wijaya ke Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan.

“Berkas memori bandingnya kalau tidak salah sudah dimasukkan ke pengadilan pada tanggal 29 Mei 2024,” singkat Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Makassar (Kejari Makassar), Andi Alamsyah dikonfirmasi via whatsapp, Kamis (13/6/2024).

Baca juga:

Kasus Dugaan Korupsi di Kementan: KPK Periksa Direktur Alsintan

Di waktu yang sama saat ditelusuri melalui Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Makassar, ditemukan pengiriman berkas memori banding perkara Wempi tercatat Selasa 11 Jun 2024 dengan nomor surat pengiriman berkas banding 2671/KPN.PN.W22.U1/HK.2.1/VI/2024.

Vonis PN Makassar 12 Tahun Penjara

Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Makassar menjatuhkan vonis pidana kepada Terdakwa Wempi lebih rendah dari tuntutan yang diberikan oleh Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni tuntutan pidana seumur hidup.

Baca juga:

Denda Tilang Selama Tahun 2023 Capai Rp 2,1 Miliar dari 12.878 Pelanggaran

Majelis Hakim yang terdiri dari Eddy selaku Hakim Ketua serta Joko Saptono dan Johnicol Richard Frans Sine selaku Hakim Anggota, menjatuhkan pidana penjara kepada Terdakwa Wempi selama 12 tahun penjara dan denda sebesar Rp2.000.000.000 dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama 4 bulan.

Terdakwa Wempi dalam putusan Majelis Hakim disebut terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ”menjual, membeli, menerima, narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 gram dan turut serta melakukan perbuatan secara tanpa hak menyalurkan psikotropika.

“Mengadili menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan dan menetapkan terdakwa tetap berada dalam tahanan,” ucap Majelis Hakim yang diketuai oleh Eddy.

Tuntutan JPU

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri Makassar sebelumnya juga hanya mengganjar tuntutan penjara seumur hidup kepada Terdakwa Wempi Wijaya yang dikenal oleh masyarakat Sulsel sebagai bandar narkoba paling lihai.

Tuntutan yang terkesan ringan tersebut dibacakan langsung oleh tim JPU Kejari Makassar pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Makassar (PN Makassar), Selasa 14 Mei 2024.

“Tuntutan seumur hidup,” ucap Kepala Seksi Intelijen Kejari Makassar, Andi Alamsyah via pesan singkat whatsapp, Rabu 16 Mei 2024.

Dalam amar tuntutan, perbuatan bandar narkoba kakap Wempi Wijaya itu dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak dan melawan hukum, menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan narkotika golongan 1 dalam bentuk tanaman yang beratnya melebihi 5 gram dan turut serta melakukan perbuatan secara tanpa hak menyalurkan psikotropika sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 60 ayat 2 Undang-Undang No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Adapun barang bukti yang dihadirkan dalam persidangan berupa 1 HP merek Iphone 13 Pro Max dengan IMEI I 358275380817052 dan nomor simcard 0165525678, 1 unit HP Merk Samsung dengan IMEI I 352908910750080/01 IMEI 2 358482310750086/01 dan nomor simcard 0136007099, 63 plastik klip berisi narkotika jenis sabu dengan berat total sekitar 5211,2 gram dalam perkara Rulli Winarto dan Kiki Risky Ananda dirampas untuk dimusnahkan.

Selanjutnya barang bukti berupa 70 bungkus plastik bening berisi narkotika jenis sabu dengan berat total sekitar 14.187 gram yang melekat pada perkara Imran bin Mansyur dan Andi Arianto, 1 set alat hisap sabu yang terbuat dari botol bekas minuman larutan penyegar cap kaki tiga beserta pireks kaca dengan berat awal 0,0821 gram dan berat akhir 0,0710 gram dipergunakan dalam perkara Imran bin Mansyur. (*)