Pemprov Sulsel Imbau Masyarakat Manfaatkan 10 Hari Terakhir Ramadan untuk Berbagi Kebahagiaan

MAKASSAR, INIKATA.co.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan ( Pemprov Sulsel) mengimbau masyarakat memanfaatkan 10 hari terakhir Ramadan tahun ini untuk berbagi kebahagiaan dengan warga yang membutuhkan, baik itu pengusaha dan juga masyarakat yang punya rezeki lebih.

Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sulsel, Erwin Sodding mengatakan, berbagi kebahagiaan ini diinisiasi langsung oleh Pj Gubernur Sulsel. Dia juga telah instruksi ke Bupati Wali Kota untuk ikut berpartisipasi.

Baca juga:

Pj Gubernur Sulsel Ajak ASN Kolaborasi Atasi Kemiskinan Ekstrim dan Stunting

“Entah itu dari sedekah materi ataupun immateri. Bisa juga melalui dukungan moril atau buat bakti sosial, jadi kita perlu manfaatkan 10 Ramadan terakhir ini untuk berbagi bahagia,” ujar Erwin, Sabtu, (30/3/2024).

Pemprov Sulsel sendiri telah melakukan berbagi kebahagiaan lewat pembagian Bansos, sedekah 50 ribu pohon yang dipusatkan di Bone, Gerakan Pangan Murah (GPM) dan menebar benih ikan serta kegiatan sosial lainnya.

“Kita berharap elemen lainnya selain masyarakat juga ikut andil dalam berbagi bahagia ini,” jelasnya.

Baca juga:

Banyak Masalah yang Membelit, Bahtiar Ibaratkan Pemprov Sulsel Seperti Kapal yang Hampir Tenggelam

Sebelumnya, Pj Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin telah menghimbau kepada Bupati dan Walikota perihal Gerakan Sosial “Sulawesi Selatan Ramadhan 1445 H Berbagi Bahagia”.

“Gerakan sosial ini secara alamiah akan berdampak dan membentuk kebiasaan atau tradisi sebagian besar warga masyarakat Sulsel yang terkenal sangat sosial,” terangnya.

Gerakan sosial ini kata Bahtiar, sebagai salah satu cara pemerintah membangkitkan dan menghidupkan kembali sifat-sifat dasar, karakter, dan kepribadian dasar serta budaya masyarakat Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.

“Yang sejatinya adalah terkenal sebagai masyarakat yang ringan tangan suka membantu sesama dan suka menolong orang sekitarnya yang kurang mampu dimanapun berada,” tuturnya .

“Jika ini dilakukan secara sistemik dan masif di seluruh pelosok Sulawesi Selatan, maka semestinya di wilayah Sulsel dalam waktu singkat tidak ada lagi warga yang stunting, gizi buruk dan atau disebut miskin ekstrem,” pungkasnya. (Fadli)