7 Cara Ampuh untuk Mengatasi Overthinking agar Hidup Menjadi Lebih Tenang

INIKATA.co.id – Stoicism mindset merupakan sebuah filosofi yang mengajarkan manusia cara untuk menciptakan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan nyata.

Stoicism ini berkaitan dengan fokus atau konsentrasi kita terhadap hal yang bisa atau tidak bisa kita kendalikan.

Baca juga:

Air Gula Ternyata Baik untuk Kesehatan Lambung, Berikut Penjelasannya

Filosofi ini berhubungan sangat erat dengan kebahagiaan hidup yang diwujudkan dengan cara menghindari pikiran-pikiran stres dan jenuh.

Sebagian besar manusia di dunia ini lebih sering berfokus pada hal-hal yang berada diluar jangkauan mereka dibandingkan dengan hal-hal yang bisa mereka kendalikan.

Tentu hal ini berbanding terbalik dengan tujuan dari stoicism untuk meciptakan kehidupan yang bahagia dan tenang.

Kunci utama untuk memiliki hidup bahagia menurut stoicism mindset adalah dengan memfokuskan diri kita sendiri pada hal-hal yang ada dalam kendali kita agar menjadi sosok yang tangguh dan bijaksana.

Dalam filosofi stoicism, semua hal yang terjadi dalam hidup manusia itu bersifat netral. Tidak ada yang bersifat positif atau negative juga tidak ada hal yang bersifat buruk atau baik.

Pemikiran ini menjelaskan bahwa penilaian terhadap sesuatu yang bersifat positif atau negatif serta baik atau buruk itu berasal dari interpretasi kita terhadap hal tersebut.

Dilansir dari Jawapos, berikut adalah beberapa cara yang dikutip dari buku The Daily Stoic agar kita dapat membentuk stoicism mindset sekaligus untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru yang lebih baik.

1. Memahami adanya perbedaan kendali

Hal utama dalam filosofi stoicism adalah tentang cara membedakan hal-hal apa saja yang dapat diubah dan hal apa saja yang tidak dapat kita ubah. Memahami apa yang kita miliki dan apa yang tidak kita tidak miliki.

Menurut Epictetus, kita sebagai manusia hampir tidak mempunyai kendali atas apapun. Tetapi pada saat yang bersamaan, kita mempunyai kendali penuh yang potensial untuk kebahagiaan kita.

Konsep stoicism mengajarkan bahwa semua rasa emosi yang kita rasakan merupakan hasil dari penilaian kita terhadap sesuatu. Hal yang berada dalam diri kita sendiri sebenarnya bersifat netral karena apa yang kita anggap mengerikan mungkin saja terlihat sepele bagi orang lain, begitupun sebaliknya.

Dalam cara ini kita harus dapat membedakan hal-hal yang dapat kita kendalikan dan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan.

2. Membuat jurnal harian

Stoicism mindset mengharuskan kita untuk membiasakan diri menulis jurnal harian sekaligus konsep yang digunakan untuk mempersiapkan diri menghadapi hari-hari di masa depan. Dalam jurnal harian ini kita menuliskan segala peristiwa atau sesuatu yang kita alami saat merasa kesal dengan sesuatu yang bersifat sepele atau bertindak dengan rasa emosi kepada seseorang yang mungkin saja tidak pantas kita marahi.

Dengan menuliskan semua itu, kita dapat memberikan evaluasi untuk hari ini dan mempunyai harapan dan berpikir untuk tidak melakukannya lagi di kemudian hari.

Pola pikir stoicism ini dirancang untuk menjadi praktik dan rutinitas, oleh karena itu diperlukan ketekunan, pengulangan, dan konsentrasi untuk menerapkan mindset ini.

3. Mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk

Hidup tidak hanya tentang hal-hal yang indah dan menyenangkan saja, tetapi ada saatnya kita terpuruk, terjatuh, dan juga terluka. Hal ini membuat kita jarus tetap tegar dan kuat untuk menghadapi beberapa skenario terburuk

Ini adalah hal yang wajar karena merupakan bagian dari hidup, dengan menerapkan stoicism mindset ini artinya kita harus siap dengan sebuah pandangan bahwa hidup itu tidak selalu senang dan nyaman.

Oleh karena itu, kita harus berusaha dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari-hari yang buruk serta berdamai dan menerima emosi-emosi negatif yang menghampiri, seperti takut ataupun cemas.

4. Mengendalikan persepsi bahwa semua hal akan mendatangkan kebahagiaan baru

Jika kita hanya berfokus pada permasalahan yang ada maka hidup akan terasa lebih sulit. Daripada hanya memikirkan keburukan yang datang, coba untuk memberikan sebuah kebaikan dan fokus kepada hal-hal yang baik juga.

Bagi kaum Stoic, segala yang terjadi adalah peluang dan kita harus pintar untuk memanfaatkan situasi, sekalipun itu adalah hambatan maka akan dijadikan peluang untuk mencapai kebahagiaan.

5. Ingat bahwa hidup ini singkat

Konsep stoicism mindset sangat sederhana dan kita hanya perlu sadar bahwa kita adalah makhluk yang sangat kecil di muka alam semesta. Begitu juga semua hal yang kita hadapi hanyalah butiran debu dan hanya bersifat sementara. Kita bisa memiliki apapun dalam waktu singkat dan sekedipan mata pula kita dapat kehilangan hal tersebut.

6. Melihat melalui sudut pandang lain

Konsep ini membuat kita untuk berpikir ulang dan melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih tinggi daripada sudut pandang kita sendiri.

Melihat situasi dari sudut pandang lain mendorong kita untuk mengambil perspektif sehingga dapat menimbulkan simpati untuk memahami adanya hubungan antara segala sesuatu yang terjadi pada manusia.

7. Selalu mengingat kematian

Mengingat kematian bukan berarti kita harus selalu bersedih, tetapi pemikiran ini menyegarkan dan bertujuan merendahkan hati agar kita tidak melakukan hal yang berlebihan.

Salah satu filsuf stoicism berkata, “kamu tidak boleh bangun besok, ketika kamu hendak tidur dan kamu tidak boleh tidur lagi ketika kamu sudah bangun”. Kata dari Seneca ini sebagai pengingat akan kematian agar kita menjalani hidup sebaik-baiknya dan menggunakan waktu dengan bijak.

Inti dari stoicism mindset ini adalah mengajarkan kita untuk tidak hanya merasa baik-baik saja dengan hal yang terjadi, tetapi juga menyukai dan menjadi lebih baik karena hal tersebut.(jawapos/inikata)

Writer: Jawapos