Pj Sekprov Sulsel: Peran Bahasa dan Sastra Perkuat Identitas Budaya

MAKASSAR, INIKATA.co.id – Pj Sekprov Sulsel, Andi Muhammad Arsjad, membuka secara resmi Rapat Koordinasi (Rakor) Antarinstansi Program Pengembangan Pembinaan Perlindungan Bahasa Indonesia dan Daerah di Sulsel dan Sulbar Tahun 2024.

Andi Muhammad Arsjad dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada panitia pelaksana kegiatan, pihak terkait dan kepada seluruh pemerintah daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang telah berkomitmen untuk mendukung pembangunan, pembinaan, dan perlindungan bahasa dan sastra di wilayah mereka masing-masing, serta kepada semua peserta yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk hadir.

Baca juga:

Camat Tallo Dampingi Pj Gubernur dan Walikota Makassar Tinjau Harga Komoditi di Pasar Pannampu

Selain itu, sebagai pemerintah daerah mengakui dan menghargai peran bahasa dan sastra dalam memperkuat identitas budaya kita. Bahasa bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga merupakan cerminan dari sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.

“Untuk itu, kita memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa bahasa dan sastra kita tetap hidup, berkembang, dan terlindungi,” ucap Arsjad sekaligus membuka secara resmi rakor yang dilaksanakan di Hotel Four Points tersebut, kemarin, Jum’at, 16 Februari 2024.

Rakor ini, kata Arsjad, merupakan momentum penting bagi kita semua untuk saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan ide-ide inovatif dalam upaya menjaga keberlangsungan bahasa dan sastra Indonesia serta bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

“Tentu dengan adanya rakor ini, saya yakin kita dapat menciptakan strategi yang lebih efektif dan terintegrasi untuk memperkuat pendidikan bahasa dan sastra, mendukung para penulis dan seniman lokal, serta melindungi warisan budaya yang begitu berharga bagi kita semua,” ujarnya.

Menurut Arsjad, pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa dan sastra tidak dapat dilakukan secara terpisah. Perlu menjalin kerja sama yang erat antara pemerintah, akademisi, praktisi budaya, dan masyarakat agar program ini dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak yang positif bagi keberlangsungan budaya dan bahasa daerah.

Khusus di Sulawesi Selatan, kita memiliki setidaknya ada 14 Bahasa Daerah, belum termasuk dialek mulai dari Toraja, Bugis, Makassar, Mandar, Massenrempulu, Lemolang, Rampi, Seko, Bugis De, Wotu, Bajo, Konjo, Bonerate dan Laiyolo.

Sementara di Sulawesi Barat tercatat ada beberapa dialek dan bahasa daerah diantaranya, Baras, Benggaulu, Mamasa, Mandar, Mamuju, Budong-Budong, Kone-Konee, Pannei dan Topoiyo.

Untuk itu, ia mengajak seluruh peserta rakor untuk berkolaborasi, berbagi ide, dan berkomitmen dalam menjalankan program ini dengan penuh semangat dan dedikasi, khususnya terhadap bahasa daerah kita yang terancam punah dan mewujudkan bersama-sama visi untuk menjaga dan
mengembangkan kekayaan budaya dan bahasa daerah kita demi kesejahteraan dan keberlangsungan generasi mendatang.

Ia juga mengungkapkan bahwa Pj Gubernur Sulsel ini dulunya menjabat di Provinsi Riau, dimana di sana dikenal dengan pantun. Kemudian, di sini Pj Gubernur menyarankan agar sambutan-sambutan disarankan menggunakan petuah-petuah orang tua dulu, karena petuah orang tua dulu jika dimaknai sangat bagus sebagai prinsip-prinsip hidup.

“Dan ini juga adalah bagaimana membangun kecintaan kita kepada bahasa daerah sehingga mereka bisa mengetahui bahasa mereka dan mengenali budayanya,” imbuhnya. (*)