Filmnya Selalu Muncul Saat Pemilu, Sutradara “Dirty Vote” Berikan Alasan

INIKATA.co.id  – Jurnalis senior sekaligus sineas dokumenter, Dandhy Laksono, belakangan jadi sorotan publik setelah film dokumenter Dirty Vote berjudul ‘Sebuah Desain Kecurangan Pemilu 2024’ rilis pada Minggu (11/2) lalu.

Dandhy Laksono yang berlaku sebagai sutradara, mengawal penjelasan tiga Pakar Hukum Tata Negara yakni Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari dan Bivitri Susanti, tentang kecurangan pemilu 2024 yang konon sudah diatur sejak awal.

Baca juga:

Terlibat Kasus Gratifikasi dan TPPU, Rafael Alun Terancam Dimiskinkan

Dirty Vote berhasil menyedot animo masyarakat secara luar biasa. Terlebih, film kliping ini dirilis di masa tenang pemilu 2024. Wajar saja, Dandhy Laksono turut diseret dalam pelbagai pro dan kontra netizen.

Pasalnya, Dirty Vote bukan karya pertama Dandhy Laksono yang dirilis di momen pemilu. Sebelumnya, bersama rumah produksi Watchdoc, Dandhy merilis sejumlah film hampir serupa di tengah hangat-hangatnya situasi pemilu.

Sebut saja film ‘Yang Ketu7uh’ pada 2014. Film ini disebut-sebut sebagai film fenomenal lantaran mengulik perjalanan pilpres, yang kala itu mengadu pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa dan Jokowi – Jusuf Kalla.

Kemudian pada 2019 lalu, Watchdoc kembali menggegerkan publik dengan rilisnya film dokumenter berjudul ‘Sexy Killers’.

Sexy Killers yang juga dirilis di masa tenang pilpres 2019, menampilkan investigasi Dandhy dan tim tentang proses proses penambangan batu bara di Kalimantan, hingga dibakar di PLTU untuk menjadi listrik yang menyebabkan dampak lingkungan dan kesehatan.

Film tersebut detail menceritakan bagaimana industri batu bara berdampak pada warga, terutama nelayan dan petani.

Parahnya, perputaran pengolahan tambang ini ternyata menjadi ladang bisnis bagi sejumlah pejabat publik yang kala itu tampil dalam pilpres 2019, yakni Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.

Kemudian yang terbaru, Dirty Vote, menjadi guncangan cukup kencang di tengah ketenangan panggung politik tanah air menjelang pemilu 2024 pada 14 Februari besok.

Mengapa Selalu Menjelang Pemilu?

Dandhy Laksono tak menampik banyaknya kritikan yang datang padanya selaku pemilik ide di balik deretan film kontroversial itu.

Lewat video wawancara yang diunggah di kanal YouTube Indonesi Baru, Dandhy pun buka suara ihwal mengapa film-film semacam ini selalu rilis menjelang pemilu.

Ia menjelaskan, bahwa opini tentang ‘mengapa selalu merilis film menjelang pemilu’ ini tergantung pada sudut pandang masing-masing orang atau kelompok.

Jika seseorang melihat ini dari sudut pandang pemilu, kata dia, maka opini tersebut adalah benar. Namun jika melihat dari sudut pandang yang lebih luas sebagai sineas, maka opini tersebut terbantahkan.

“Tapi kalau sudut pandangnya dari yang bikin film ya, enggak (bukan tentang pemilu). Antara pemilu ke pemilu itu saya bikin banyak film,” kata Dandhy, dikutip pada Selasa (13/2).

Dandhy pun menyebutkan sejumlah film yang digarapnya di luar situasi pemilu, seperti Samin vs Semen, The EndGame, The Bajau, Pulau Plastik, Kiri Hijau Kanan Merah, Tanah Moyangku, Jakarta Unfair, Kala Benoa, Rayuan Pulau Palsu dan lain-lain.

Meski tidak berkaitan dengan pemilu, namun Dandhy tak menampik bahwa beberapa filmnya kerap dipakai untuk tokoh politik menjatuhkan lawannya.

Sehingga wajar saja, beberapa film itu menjadi ‘seolah-olah’ berkaitan dengan momen pemilu. Padahal sejatinya, ia hanya mengangkat keresahan publik berkaitan dengan isu lingkungan dan sebagainya.

“Karena lagi-lagi orang hanya mengingat momen politik, seperti saat Pilkada DKI 2017 misalnya, kami bikin film Rayuan Pulau Palsu dan Jakarta Unfair. Dan lagi-lagi disimpulkan bahwa film ini yang ikut membantu kekalahan Ahok, misalnya,” katanya.

Mengerucut pada Dirty Vote, Dandhy mengatakan bahwa ide pembuatan film ini muncul dari keresahan yang sama dari orang-orang di sekitarnya. Maka saat itu juga, ide membuat film pun dijalankan.

Mengapa Dirilis di Masa Tenang Pemilu?

Dandhy mengaku bahwa waktu kira-kira ide ini muncul kurang dari satu bulan yang lalu atau sekitar 3 minggu sebelum perilisannya. Bahkan konon, Dirty Vote hanya digarap selama 2 minggu saja.

“Itu sebulan yang lalu, enggak kami rancang,” tambahnya.

Dengan proses produksi yang terbilang singkat, film Dirty Vote akhirnya rilis di hari detik-detik menjelang pemilu. Menurutnya, lantaran film memang sudah jadi dan momentumnya yang tepat.

Film Dirty Vote dirilis di masa tenang pemilu, lantaran memanfaatkan keleluasaan waktu dan situasi pasca masa kampanye berakhir. Menurutnya, toh jika film ini muncul pada masa kampanye, pasti akan tenggelam oleh lainnya.

“Karena memang konten ini sudah banyak muncul sebenarnya di masa kampanye, tapi selalu ketiban dengan semua narasi tentang kampanye,” katanya.

“Saya menunggu ketika orang sudah selesai dengan hiruk pikuk politik, dan saatnya memikirkan hal yang lebih substansial,” terusnya.

“Kalau konten ini muncul di tengah hiruk pikuk kampanye dan segala macem, juga akan enggak dianggap. Karena tetap akan dianggap sebagai bagian dari strategi kampanye salah satu yang diuntungkan atau dirugikan,” pungkasnya. (JawaPos/Inikata)