Pemkot Makassar Siap Sukseskan Perayaan Natal Oikumene Sekaligus Deklarasi Pemilu Damai

MAKASSAR, INIKATA.co.id- Natal Oikumene akan digelar pada 31 Januari 2024, Badan Kerja Sama Gereja-Gereja (BKSG) Sulawesi Selatan menemui Pemkot Makassar.

Audiensi dilakukan di Balaikota Makassar oleh ketua panitia Nielma Palamba yang juga sebagai Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar.

Baca juga:

Ahmad Susanto Bersama Teman’ta Lakukan Sunnatan Massal Secara Gratis

Nielma menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan BKSG Sulsel untuk umat kristiani merayakan Natal bersama pemerintah dan TNI/Polri.

“Sejak Covid-19 ini baru lagi kita adakan dan Natal Oikumene ini akan menghadirkan kurang lebih 3 ribu umat kristiani yang ada di Kota Makassar,” kata Nielma Palamba Jumat (12/1).

Menurutnya kegiatan itu akan dihadiri ribuan masyarakat dan juga dimana nantinya Natal Oikumene juga akan dirangkaikan dengan deklarasi Pemilu damai.

Baca juga:

Simulasi Kandidat Pilgub Jatim, Survei Cak Imin Meningkat, Jaga: Petahana Harus di Atas 50 Persen 

Sehingga akan ada sosialisasi kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan partisipasi Pemilu 2024.

“Nanti akan ada deklarasi Pemilu damai yang akan dideklarasikan bersama bapak Gubernur, Wali Kota Makassar, Pangdam, Kapolda dan semua Forkopimda di Sulsel,” ujarnya.

Olehnya itu Nielma berharap dengan adanya Natal Oikumene maka kerukunan umat kristiani yang ada di Kota Makassar semakin erat.

Termasuk memperat hubungan masyarakat dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dan jajaran TNI/Polri.

“Perayaan Natal ini juga menjadi semangat kita untuk meningkatkan kerukunan, memperkuat keimanan dan ketakwaan kita kepada Tuhan YME,” tutur Nielma.

Sementara Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto dalam arahannya siap mendukung dan menyukseskan perayaan Natal Oikumene di Kota Makassar.

“Natal tahun ini menjadi momentum mempersatukan doa dan harapan menjadikan Makassar tambah baik ke depannya,” tuturnya.

“Tidak hanya fokus pada program Jagai Anakta’ dan Perkuatan Keimanan Umat. Tetapi juga bagaimana membangun tradisi proporsional yang mewakili entitas masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan agama,” sambungnya. (C/Qadri)