Hutan Bolong di Sulsel Tuai Sorotan, Bahtiar Ingin Kembalikan Fungsi Alam

MAKASSAR, INIKATA.co.id – Penjabat Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin menyampaikan kondisi hutan di sebagian daerah telah bolong alias tidak lagi hijau.

Bahtiar mengatakan, dirinya memantau Provinsi Sulsel dari udara tampaknya hanya beberapa daerah penghijauan hutannya masih terlihat.

Baca juga:

SKJ Kemenpora, Akhmad Namsum Berikan Suntikan Semangat ke DWP Unit BKPSDMD

“Sulsel hari ini hanya ditinggal disini saja hijau kalau kita lihat dari udara. Saya sudah terbang lihat semua ini. Hanya tinggal daerah Luwu, Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur, hanya disinilah yang hijau,” jelas Bahtiar, Jumat (12/2/2024).

Dia menjelaskan, ada sebagian daerah yang sudah tampak bolong. Bahkan lanjut dia peristiwa longsor beberapa tahun lalu yang terjadi itu akibat dari kelalaian manusia terhadap alam.

“Bahkan ditengah-tengah sudah bolong juga makannya beberapa tahun yang lalu ada longsor yang luar biasa karena hutan kita sudah habis, relatif dibawah sini kiri kanan sudah habis,” tukasnya.

Imbasnya kata dia, kerusakan alam ini pun berpengaruh terhadap melemahnya daya dukung alam salah satunya seperti berkurangnya sumber daya air.

“Daya dukung alam bukan lagi melemah tapi sudah di titik terendah makanya air susah di musim kering. Hari ini tinggal 101 air terjun di Sulawesi Selatan, potensi wisata kita besar tapi daya dukung alam ini melemah,” paparnya.

Olehnya itu, ia mengatakan dirinya berkomitmen untuk mengembalikan alam dengan memberdayakan lahan-lahan untuk tanaman holtikultura.

“Oleh karenanya fungsi alam. Ini kita harus kembalikan makannya hari ini saya sebagai gubernur mengembalikan alam dengan membangun sumber ekonomi baru, tidak hanya mengandalkan padi jagung tapi tanaman-tanaman holtikultura yang bisa mengikat alam,” tandasnya.

Selain itu, pembangunan ekosistem biru mulai disusun. Ini untuk membangun daerah yang berkelanjutan dengan menyesuaikan pembangunan nasional.

“Kita sedang menyusun itu dan kita memberi tema membangun ekosistem biru Sulsel yang mandiri maju dan berkelanjutan. Ini sama dengan tema nasional untuk pembangunan jangka panjang,” jelasnya.

Salah satu implementasi ekosistem biru yang dimaksud ialah pembangunan yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

“Maka kita hendak bangun dan kita cita-citakan ibarat Sulsel itu sebagai perahu pinisi yang berlayar dia sedang menuju pulau impian yang mandiri maju dan berkelanjutan, tentu dalam ekosistem biru,” tukasnya.

Selain itu, ia mengatakan akan membangun ekosistem biru dengan menghubungkan konektivitas di seluruh wilayah Sulawesi, Maluku hingga Papua. Sebagai daerah integral dikawasan Indonesia Timur.

“Oleh karenanya sumber daya yang kami miliki di Sulsel dan kita harapkan di lingkungan seluruh Sulawesi, Maluku dan Papua ini bisa jadi satu kesatuan yang terkoneksi saling menguatkan satu dengan yang lain,” terangnya.

“Oleh karenanya para perencana pembangunan yang hari ini di Sulawesi Selatan sengaja kami undang juga dari Maluku dan Papua karena kami yakin Sulawesi Selatan kelak tidak hanya ekosistem sendiri tapi dia kaitannya dengan ekosistem lainnya di lingkungan pulau Sulawesi Maluku dan Papua,” tandasnya.

Terpisah, pengamat ekonomi Unismuh, Sutardjo Tui mengatakan ekosistem biru ini harus didorong agar memiliki ketentuannya dalam bentuk peraturan daerah (Perda).

“Kalau dari hijau ke biru atur ketentuannya apakah dalam berbentuk perda atau apapun bentuknya agar ada sanksinya,” jelasnya.

Kemudian dari sisi penindakannya kata dia, Pemerintah dapat melibatkan dari aparat penegak hukum (APH) dalam hal ini Kepolisian dan Kejaksaan.

“Mesti bikin dia punya perda abis itu ada sanksinya, nah yang melaksanakan perda itu bukan Walikota bukan satpol PP, tapi polisi dan kejaksaan,” tandasnya. (B/Fadli)