Tidak Jalankan ESG, WALHI Sulsel Desak PT Vale Indonesia Hentikan Eksplorasi di Blok Tanamalia

MAKASSAR, INIKATA.co.id – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Daerah Sulawesi Selatan, mendesak PT VALE Indonesia untuk menghentikan eksplorasi tambang nikel di Blok Tanamalia. Pasalnya, PT VALE Indonesia dinilai tidak mematuhi prinsip atau kebijakan perusahaan internasional tentang ESG (Environmental and Social Governance).

Hal ini disampaikan Kepala Departemen Eksternal WALHI Sulsel, Rahmat Kottir, kegiatan eksplorasi PT Vale Indonesia di Tanamalia menurutnya telah bertentangan atau tidak mematuhi prinsip dan kebijakan perusahaan internasional tentang environmental and social governance atau tata kelola lingkungan dan sosial.

Baca juga:

Masih Berstatus OTK, Pangdam Hasanuddin Sebut Penyerang Polres Jeneponto Bukan TNI

“Kegiatan eksplorasi PT Vale Indonesia tanpa konsultasi publik dengan para petani merica menunjukan bahwa PT Vale Indonesia tidak menjalankan ESG atau tata kelola lingkungan dan sosial. Sementara PT Vale Indonesia selalu mengklaim bahwa pihaknya adalah perusahaan yang menjalankan ESG” Ujarnya kepada INIKATA, Jumat (19/5/2023).

Selain itu, Rahmat menjelaskan bahwa menurut laporan masyarakat, saat ini PT Vale Indonesia belum melakukan konsultasi publik dengan petani merica. Sementara kegiatan eksplorasi telah memasuki kebun-kebun merica.

“Kami memperoleh informasi bahwa kegiatan eksplorasi PT Vale Indonesia telah banyak merusak kebun-kebun merica petani,” Jelasnya.

Baca juga:

Ribuan Petani Merica Demo PT Vale Indonesia, Tuntut Keluar Dari Blok Tanamalia

Oleh karena itu, pihaknya tidak akan berhenti untuk mendesak PT Vale Indonesia agar menghentikan kegiatan eksplorasi di tanamalia, khususnya di kebun-kebun merica petani. Rahmat pun meminta PT Vale Indonesia untuk menghormati keberadaan petani dan buruh tani merica yang berkebun dan mencari penghidupan di pegunungan Lamuero

“Sekali lagi kami mendesak CEO PT Vale Indonseia, Febriany Eddy untuk menghentikan kegiatan eksplorasi tambang di tanamalia. Segera lakukan konsultasi publik bersama petani merica dan perempuan di Desa Loeha dan Ranteangin, sebagai bentuk penghormatan perusahaan terhadap hak asasi manusia, hak-hak para petani merica.

Dari Informasi yang dihimpun, belasan petani merica di Desa Loeha dan Ranteangin menggelar aksi menolak perluasan tambang nikel PT Vale Indonesia di Pegunungan Lamuero, khususnya kebun merica petani.

Dari pernyataan seorang petani merica di Desa Ranteangin, mayoritas petani merica, buruh tani, perempuan di Desa Loeha dan Ranteangin menolak keras rencana perluasan tambang nikel PT Vale Indonesia di Pegunungan Lamuero atau di Blok Tanamalia. (Awal)