Aktivis dari 26 Provinsi Dirikan Yayasan 98 Peduli

INIKATA.co.id – Sekelompok aktivis reformasi ’98 sepakat bakal membentuk ‘Yayasan 98 Peduli’.

Hal ini, dikarenakan setalah 25 tahun pascareformasi, cita-cita para eks mahasiswa kala itu, dirasa belum sesuai.

Baca juga:

BMKG Sebut 161 Gempa Susulan di Cianjur Hingga Rabu Pagi

Hal tersebut dikatakan salah seorang Juru Bicara Aktivis 98 Mixil Mina Munir.

Ia sampaikan dalam konferensi pers bertajuk ‘Menggugat Reformasi’ di Cikini, Jakarta Pusat.

“Hingga 25 tahun setelah kejatuhan rezim orde baru ternyata cita-cita reformasi belum sesuai harapan,” ujar Mixil di lokasi, Rabu (17/5).

Baca juga:

Bukan Ganjar dan Prabowo, Aktivis 98 Dukung Anies Baswedan

Menurut Mixil, tanah air masih disibukkan dengan KKN yang masih menjadi tradisi para pejabat.

Lemahnya penegakan hukum,ketimpangan ekonomi yang makin nyata, serta rakyat yang menjadi unsur paling penting negara belum mendapatkan haknya.

“Keterbukaan media massa, kebebasan berorganisasi dan berserikat memang sesual tuntutan, namun pada sisi yang lain reformasi 98 memproduksi pejabat yang koruptif,” imbuhnya.

“Sistem demokrasi juga dibajak, hal ini ditandai dengan mekanisme pemilu yang makin terbuka dan liberal,” sambungnya.

Karena kondisi tersebut, lanjut Mixil, pada tanggal 1 April 2023, 340 aktivis 98′ dari 16 provinsi di Indonesia telah bertemu, berdebat, bertukar pikiran, mengadu ide dan gagasan untuk menata ulang cita-cita reformasi.

Setelah 12 kali pertemuan, kami aktivis 98 bersepakat untuk mendirikan lembaga kemanusiaan yaitu “Yayasan 98 Peduli”.

“Yayasan ini merupakan upaya mempersatukan seluruh aktivis 98 yang telah berada di ruang-ruang berbeda, profesi-profesi berbeda, partai politik berbeda. Yayasan ini merupakan jalan kemanusiaan, dan awal menjadi titik masuk konsolidasi gerakan aktivis 98″ karena sesungguhnya aktivis 98′ berangkat dari gerakan moral,” pungkasnya.

Sebelum launcing, akan dilakukan beberapa kegiatan seperti pameran foto sejarah reformasi 98.

Dan konsolidasi akbar yang dihadiri 1.200 aktivis seluruh Indonesia. (dil/jpnn/inikata)