Jalan Tengah (16)

Oleh: Hamdan Juhannis

Kali ini tentang berbagi. Anda pasti biasa berbagi, berbagi apa saja, mulai dari berbagi hal-hal besar, berbagi takjil sampai berbagi masalah. Saya akan mengulas dua  tipe orang dalam berbagi, khususnya dari sisi argumen keikhlasan.

Baca juga:

OPINI: Berislam Seperti Al-Ikhlas

Pertama, ada orang yang berbagi dengan cara demonstratif. Misalnya, dengan menunjukkan ke halayak atau secara terbuka bersedekah. Tujuannya bisa saja agar orang lain yang berlebih bisa mencontohi model kemurahan hati yang dilakukannnya. Atau bisa saja dia sudah terbiasa berbagi secara terbuka, tidak mempengaruhi tingkat keikhlasannya di depan Tuhan, apakah dia berbagi secara tertutup atau terbuka. Baginya, semua terpulang ke hati.

Kedua, ada yang suka berbagi dengan tanpa pernah melakukannya secara terbuka. Untuk jenis ini, saya jelaskan agak panjang, karena saya mengenal baik seseorang yang masuk tipe ini. Dia melakukan ragam cara untuk mengaburkan identitasnya, karena pikirnya itu bisa menjamin tingkat keikhlasannya.

Dia mengeluarkan zakat hartanya ke lembaga infaq dan sadaqah supaya penyalurannya tidak terkait langsung dengan dirinya. Dia juga suka memberi ke orang yang tidak dikenalnya secara personal, sepanjang  merasa orang itu layak dibantu. Tidak jarang juga berbagi kepada profesi yang dianggapnya perlu langsung dibantu. Misalnya, setiap memesan makanan melalui jasa pengantaran, pasti mereka tambahkan biayanya ke pengantar itu karena mereka menganggap bahwa  yang bekerja di sana pasti memiliki orang-orang yang tergantung pada dirinya.

Baca juga:

Jalan Tengah (28)

Dia juga jarang menawar saat membeli sesuatu di pasar tradisional. Menurut kawan lainnya, hampir tiap hari dia melakukan cara itu, berbagi ke orang tua yang sementara jualan  di pinggir jalan, memberi uang parkiran lebih pada tukang parkir yang berusia lanjut. Termasuk suka sekali memberi uang ke peminta-minta yang ada di lampu merah. Saat disampaikan kepadanya, bahwa itu adalah korban mafia perusahaan peminta-minta, dia hanya mengatakan, semakin anda rasional hidup, semakin susah kamu berbagi. Faktanya, anak-anak itu berada dalam kungkungan ketidakberdayaan.