Jalan Tengah (10)

Oleh: Hamdan Juhannis

Para pembaca, ada dua dosen yang saya anggap fenomenal di kampus tempat saya bekerja. Kedua dosen ini sangat bersahabat, karena selalu sama-sama dan saling lengket, tetapi juga selalu berseteru, karena hampir selalu beda pendapat dalam berbagai hal. Saya agak tahu kecenderungan kepribadian dan visi hidup kedua dosen ini, di samping karena memang berkawan dengan mereka, keduanya adalah guru saya, pernah mengajar langsung di kelas waktu kuliah.

Baca juga:

Bersatu Kita Teguh (18)

Perbedaan pandangan kedua dosen ini terjadi karena mereka memilki “worldview” yang berbeda.
Dosen yang satu cenderung kontekstual dalam memaknai sebuah alur dan dosen lainnya agak tekstual. Dosen yang satu agak datar tapi rapi dalam menyajikan pandangan terhadap  masalah, dosen satunya agak meledak dan langsung menembak persoalan tanpa basa-basi.

Dosen yang satu agak mapan ekonominya karena sukses membangun bisnis, sementara dosen yang satunya berhasil menjadi pejabat kampus, meskipun tidak dikenal memiliki usaha bisnis yang menonjol.

Dosen yang satu sering mengeritik dosen yang lainnya karena tidak memiliki jangkauan bisnis jauh ke depan seperti dirinya, sementara yang lainnya mengeritik dosen yang satu karena hidup  terlalu banyak dihabiskan untuk berbisnis sampai tidak maksimal mengurus dirinya sendiri.

Dosen yang satunya mengeritik yang lainnya karena meskipun lebih dahulu memiliki rumah sendiri dibanding dirinya, tapi menurutnya “starting point” untuk menjadi orang kaya, tidak mesti harus dimulai dengan memiliki rumah. Yang paling penting menurutnya, memiliki nyali untuk membangun usaha yang bisa menghadirkan rumah.

Sementara dosen yang dikritik itu membela dengan mengatakan bahwa rumah adalah tempat bernaung, harus menjadi prioritas. Dosen ini mengatakan karena lebih dahulu memiliki rumah, makan cikal bakal kemandirian lebih dahulu dimilikinya. Lalu mengapa tidak berkembang pesat usaha yang dibangun, karena ada kekhawatiran tidak lagi mampu membahagiakan keluarganya, terutama dirinya bila sudah terlalu sibuk dengan bisnisnya.

Kedua dosen ini  bertemu kemarin dan berdebat lagi tentang pilihan lokasi rumah yang mereka beli untuk rumah kesekian mereka. Ternyata terungkap bahwa dosen yang pebisnis  membangun ruko yang jauh dari kota utama, tapi terletak di dekat sebuah pasar tradisionil. Sementara yang berstatus pejabat kampus, membeli rumah di perumahan yang tenang dan asri yang juga tidak jauh dari pasar tradisionil tersebut.

Karena bersahabat, setiap ke masjid pasti selalu berdampingan, dan setiap berdampingan pasti selalu berseteru kalau menyampaikan pendapat.
Pertanyaannya, apa yang menarik dari persahabatan mereka?  Yang menarik ada pada perseteruan mereka. Persahabatan mereka dibangun dari perseteruan atau perbedaan pandangan mereka. Persahabatan mereka dihidupkan oleh kontradiksi pandangan.

Mereka selalu ingin bersama karena keduanya merasa “hidup” dari warna-warni pandangan. Mereka saling mencari karena ketika pandangannya tidak ditopang oleh tantangan ide, maka pandangan itu diyakininya akan redup sendiri, keropos dan lapuk. Mereka bersahabat karena mereka berbeda, mereka saling mencari karena dalam perseteruan itu terbangun orkestrasi, paduan ragam pandangan yang menghasilkan keteraturan.

Kedua dosen ini menunjukkan cara unik menjaga saling ketergantungan mereka, yaitu dengan menikmati perbedaan. Kunci dari awetnya persahabatan dari kontradiksi ini, adalah keduanya sudah sepakat untuk menggadaikan ego personalnya dan sepakat tidak boleh ada yang datang menebusnya. Memangnya pegadaian?