Kasus Pembunuhan Brigadir J: Ferdy Sambo Divonis Hukuman Mati

INIKATA.co.id – Mantan Kadiv Propam Polri, Ferdy Sambo divonis hukuman mati dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Baca juga:

Rezki Mulfiati Turunkan Team Lakukan Fogging di Panakkukang

Sambo dinyatakan bersalah melanggar Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Sambo juga dinyatakan bersalah melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 Undang-Undang nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Ferdy Sambo telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan pembunuhan berencana dan tanpa hak melakukan perbuatan membuat sistem elektronik tidak berfungsi sebagaimana mestinya secara bersama-sama,” kata Hakim Ketua Wahyu Iman Santoso saat membacakan amar putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (13/2/2023).

“Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Ferdy Sambo pidana mati,” ucapnya.

Baca juga:

Kasus Pembunuhan Brigadir J: Bharada E Dituntut 12 Tahun Penjara

Hakim menuturkan, ada tujuh poin yang memberatkan Sambo. Pertama, perbuatan Sambo dilakukan terhadap ajudannya sendiri yakni Brigadir J yang telah mengabdi selama tiga tahun. Perbuatan itu mengakibatkan duka mendalam bagi keluarga korban.

Kemudian, perbuatan Sambo menimbulkan keresahan dan kegaduhan di masyarakat luas. Hakim menilai, perbuatan Sambo tidak sepantasnya dilakukan dalam kedudukannya sebagai aparat penegak hukum dalam hal ini Kadiv Propam Polri.

Selanjutnya, perbuatan Sambo telah mencoreng institusi Polri di mata masyarakat Indonesia dan dunia internasional. Selain itu, Sambo menyeret banyak anggota Polri untuk terlibat dalam tindak pidana.

Poin terakhir, yaitu Sambo dinilai hakim berbelit-belit memberi keterangan di persidangan dan tidak mengakui perbuatannya.

“Tidak ada hal meringankan dalam perkara ini,” ujarnya.

Hakim juga menyatakan dalih adanya pelecehan seksual terhadap istri Sambo, Putri Candrawathi, tidak memiliki bukti yang valid. Hakim kemudian menilai sangat kecil kemungkinan Brigadir Yosua melakukan pelecehan terhadap Putri.

Hakim lalu mengatakan motif dalam pembunuhan berencana terhadap Yosua tidak wajib dibuktikan. Alasannya, motif bukan bagian dari delik pembunuhan berencana.

Sementara, Ferdy Sambo bungkam atau tak memberikan komentar apapun saat ditanya awak media dan langsung bergegas meninggalkan ruang sidang usai hakim membacakan vonis terhadapnya.

Saat meninggalkan ruang sidang, mantan jenderal bintang dua Polri itu dijaga ketat oleh polisi bersenjata.

Terpisah, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam), Mahfud MD memuji majelis hakim yang menjatuhkan vonis mati terhadap Sambo.

Menurut dia, vonis hakim tersebut sudah sesuai rasa keadilan publik.

“Hakimnya bagus, independen, dan tanpa beban. Makanya vonisnya sesuai dengan rasa keadilan publik. Sambo dijatuhi hukuman mati,” kata Mahfud.
Mahfud awalnya menyampaikan bahwa pembuktian jaksa atas tindak pidana Sambo nyaris sempurna. Apalagi, pembunuhan berencana terhadap Brigadir N J itu disebutnya sebagai sebuah peristiwa kejam.

“Peristiwanya memang pembunuhan berencana yang kejam. Pembuktian oleh jaksa penuntut umum memang nyaris sempurna. Para pembelanya lebih banyak mendramatisasi fakta,” ujar Mahfud melalui akun Twitternya.

Sebagaimana diketahui, pembunuhan terhadap Brihadir J terjadi pada 8 Juli 2022 lalu di rumah dinas Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga nomor 46, Jakarta Selatan. (*)