Hindari Terjadinya Insiden Seperti di Barru, Rel Kereta Api di Makassar Harus Eleveted

INIKATA.co.id – Tewasnya seorang warga di Kabupaten Barru karena tertabrak atau tersambar Kereta Api Trans Sulawesi pada Rabu (1/2/2023) kemarin, membuat rencana pembangunan jalur kereta api tersebut di Kota Makassar kembali menjadi perhatian.

Baca juga:

17 Provinsi Sudah Tetapkan UMP 2023, Sulsel Naik 6,9 Persen

Pengamat Transportasi, Prof Lambang Basri mengatakan, perlintasan atau jalur kereta api yang akan dibangun di wilayah Kota Makassar memang sebaiknya tidak menggunakan konsep atau desain at grade (jalur darat) seperti yang sudah dibangun di Kabupaten Barru dan Pangkep.

Menurut dia, jalur kereta api di Kota Makassar diproyeksikan memiliki frekuensi yang sangat tinggi. Olehnya itu, sebaiknya dibangun dengan konsep atau model elevated (melayang).

“Karena di Makassar ini nanti frekuensi perlintasannya tinggi, jadi akan lebih efektif jika jalurnya itu dibangun dengan model elevated. Daripada dibangun degan model at grade, harus membuat pagar atau portal yang setiap beberapa menit harus ditutup karena kereta mau lewat, itu akan mengganggu dan bisa menyebabkan kemacetan yang makin parah di Makassar,” kata Prof Lambang Basri, kemarin.

Baca juga:

Amdal Pembangunan Jalur KA Makassar-Parepare Bakal Direview

“Selain itu, model eleveted juga bisa menghindari terjadinya korban jiwa seperti di jalur Barru kemarin, meminimalisir kemungkinan menyebabkan banjir, dan tidak jorok atau lebih indah dipandang,” sambungnya.

Ia juga mengingatkan agar perencanaan pembangunan rel kereta api di Kota Makassar harus mempertimbangkan rencana jangka panjang sehingga bisa bertahan lama.

“Kita ini kan membangun ini jangan hanya berpikir jangan pendek, karena ini bukan cuma untuk kita, tapi membangun untuk generasi penerus kita juga,” ujarnya.

Khusus untuk peristiwa kecelakaan di Kabupaten Barru, Prof Lambang Basri mengatakan, Balai Pengelola Perkereta Apian (BPKA) Sulawesi Selatan harusnya memperhatikan keamanan dan keselamatan masyarakat dalam operasional Kereta Api Trans Sulawesi tersebut.

Menurut dia, di sepanjang rel kereta api tersebut, diperlukan adanya pagar pengaman untuk mengindari terjadi kecelakaan pada manusia dan hewan.

“Ada dua opsi. Pertama, itu ada pagar pengaman agar orang maupun binatang tidak mudah menyeberang atau melintas di rel itu,” tuturnya.

“Kedua adalah menyediakan tempat penyebaran yang cukup untuk masyarakat. Saya lihat di situ agak datar, jadi kalau begitu maka siapkan terowongan untuk mereka bisa melintas. Jadi dia tidak berada pada jalur sebidang yang berkaitan dengan sarana pejalan kaki dan penyebrangan,” sambungnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan pihak BPKA Sulsel agar menyediakan tenaga pengawas yang bisa memantau terus menerus kondisi dan kemanan jalur kereta api.

“Kalau misalnya dengan daerah persawahan, saya kira perlu juga ada pemantauan secara kontinyu. Karena ini kan masyarakat di sana masih awam,” ucapnya.

Sebelumnya dikabarkan, Kereta Api Trans Sulawesi jalur Makasar-Parepare yang baru dioperasionalkan secara terbatas untuk segmen Garongkong (Barru) – Maros pada 2 Desember 2022 lalu, menelan korban jiwa, Rabu (1/2/2023).

Lasudding (53), warga Kampung Ammaro, Kelurahan Coppo, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, yang merupakan seorang pria berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas (tuna rungu), tewas usai tersambar Kereta Api Trans Sulawesi KLB II.

“Korban tertabrak dan terpental hingga dan meninggal dunia, kejadiannya tadi sekitar pukul 10.50 Wita. Meninggal di tempat,” kata Kapolres Barru, AKBP Dodik Susianto.

Dodik menceritakan kronologi kejadian tersebut berawal saat korban naik sepeda bersama temannya usai pulang dari sawah. Saat hendak menyebrang, dia pun tertabrak kereta api.

“Awalnya korban hendak menyeberang. Namun, Tiba-tiba kereta api datang dan langsung menabrak korban hingga menyebabkan korban meninggal dunia. Dia (korban) tidak dengar, karena tuli,” terangnya. (fdl)